Hari ini hari Kamis, 24 Juli 2014. Disela-sela kegiatanku mengerjakan tugas, ibuku minta diantar membeli bahan pakaian dan beberapa baju untuk adik-ku. Siang ini jam 2 siang aku berangkat bersama ibu dan adikku. Tujuannya ke sebuah toko bahan kain disudut alun-alun Kota Tegal. Sembari menunggu ibu tawar menawar (maklum ibu-ibu kalo nawar kaya debat capres), aku duduk-duduk bersama adikku sambil melihat suasana Kota Tegal, suasana yang jarang aku jumpai di perantauan.
Singkat cerita, setengah jam berlalu tiba-tiba dari sebuah gang terdengar langkah kaki seorang laki-laki tua renta, dengan tongkat bambu merah putih, sambil berbicara tak jelas.
Ketika beliau mulai melangkah, betapa sedihnya hati ini. Ternyata bapak tua renta itu buta. Aku mencoba menyingkirkan sepeda yang menghalanginya. Semakin dekat beliau tetap berbicara kata-kata yang sama, namun tidak jelas. Aku belum mengerti. Sedih rasanya, apa yang bisa aku perbuat? Bingung.
"Mbak..Mbak.. blablabla..." Tak jelas apa ucapnya, tapi raut dan ekspresinya menunjukkan dia sangat butuh pertolongan. Aku ikuti beliau, tiba-tiba beliau mengambil peluit dari kantongnya, "Priit... Priit... Priit... Mbak mbak... blablabla...". Seolah mengirimkan kode darurat. Aku tau sepertinya kakek itu butuh bantuan, tapi apa? Aku tak mengerti, aku tanya "Pripun mbah...". Jawabannya sama... tak jelas. Tambah bingung...
Berkali-kali kakek itu membunyikan peluitnya sambil melangkah tertatih. Lalu adikku berkata "Mas, katanya pengin ke WC." Aku perhatikan lagi kata-katanya, dan ternyata "Sepertinya benar...". Aku tanya pelayan toko, WC disini dimana ya, ga ada.
Setau saya ada WC di masjid, namun aku harus menunggu ibuku. Bingung mau mengantar kakek itu ke masjid dan ibuku akan ngomel-ngomel karena pasti lama. Kenapa? Bisa dibayangkan kalo aku anter ke WC otomatis harus aku tunggu sampai kakek itu keluar lagi, kalo tidak? Barangkali dia terpeleset atau terjadi apa-apa kan kasian. Hingga akhirnya aku mulai mendekati kakek itu, terdengar "Pripun mbah,,, bade nyebrang?"
Datang tukang becak yang langsung berhenti didepan kakek itu, "Bade pundi mbah? Nyebrang?" ("mau kemana mbah? nyebrang jalan?"). Dan kakek itu tetap menjawab kata-kata yang sama, entah benar atau tidak dia ingin ke WC. Namun akhirnya tukang becak membawa kakek itu katanya mau menuju Pasar Pagi Tegal.
Lega rasanya... Tapi malu luar biasa... Betapa sampahnya aku, ga bisa berbuat apa-apa... SAMPAH !. Malu, tapi bagaimana lagi aku bingung disitu.
Selepas dari toko bahan itu, Ibu mengajak aku ke Pasar Pagi Tegal. Sesampainya disana, memang suasananya cukup ramai sehingga logis kalo kakek tadi minta ke pasar pagi, dan disetiap lantai terdapat toilet. Wallahualam...
Hanya cerita saja pengalamanku, anda boleh JUDGE saya sesuka anda.
SAMPAH, TAK BERGUNA, TEGA.
Tapi sungguh, hanya satu perasaanku saat itu. Bingung dan Sedih. :(
Kalo temen-temen nemuin kaya gitu, langsung ditanyain ya kasian. Dibantu sebisa mungkin. :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar