Nyapu Yang Bener Biar Jodohnya Baik

  • 0
Pernah denger kalimat
"nyapu yang bener, yang bersih, biar besok dapet istri yang baik dan cantik"?

Bagi yang hidup di desa seperti saya, kalimat tersebut sering terdengar ketika kita sebagai anak melakukan pekerjaan rumah yaitu 'menyapu lantai'. 

Lantas ada hubungan apakah antara menyapu dengan jodoh? Ini semacam fatamorgana kehidupan yang penuh misteri. Hmmmm...

Saya coba menganalisis dengan versi ngawur saya untuk mendalami makna kalimat tersebut. Menurut pengamatan saya yang penuh fantasi ini, menyapu merupakan salah satu ekspresi diri seseorang yang dapat mencerminkan perilakunya. Lho kok bisa? 

Begini ceritanya...

Ada beberapa fase dalam menyapu yang mungkin berkaitan dengan karakter seseorang. Sekali lagi saya peringatkan, ini hanya fantasi freak saya saja. Tolong jangan dibawa serius yang berlebihan apalagi sampai mengaku-ngaku sebagai korban LGBT (Lo Gaul Banget Tjoy!)

#1 Di sekolah rajin nyapu, di rumah jarang
Pernah? Saya pernah. Masa-masa ketika piket sekolah rajin banget nyapu kelas, sedangkan kalo di rumah jarang, sekali nyapu di rumah itupun harus melalui perang dunia dulu sama mamah. Nah, tipe-tipe seperti ini biasanya ada di masa anak-anak dan abg alay, dimana mereka butuh pengakuan, perhatian, dan pujian dari luar. Kalo udah dewasa masih dalam tahap ini, berarti masuk dalam kategori pencitraan. Yang penting orang lain memandang gue bagus, orang sendiri mah biarin. Wkwk... 

#2 Rajin nyapu cuma yang keliatan doang
Pernah? Saya pernah (lagi). Masa-masa ketika kita sudah mulai sadar bahwa menyapu adalah salah satu bentuk pengabdian dan tanda balas jasa kita terhadap orang tua. Namun pada fase ini level menyapu kita masih setengah ikhlas atau belum expert (beda tipis). Sehingga yang terjadi adalah sekilas rumah tampak bersih tapi ternyata dibagian kolong meja masih kotornya naudzubillah. Nah, tahap ini merupakan proses transisi dimana seseorang perlu belajar dan perlu dibimbing dalam kebenaran supaya tahu bagaimana seharusnya. Kalo udah berpengalaman, udah tahu, tapi masih dalam tahap ini, berarti masuk dalam kategori cuek bebek alias yang penting udah keliatan bersih bodo amat yang ga keliatan. Hmmm... Luarnya oke, dalemnya... hmmm...

#3 Menyapu tapi kotorannya dibuang ditempat yang kurang tepat
Pernah? Saya pun pernah. Fase ketiga ini setelah melalui fase pertama dan kedua, namun rasa malas masih sedikit ada dalam diri kita. Melakukan proses menyapu dengan baik, tapi mengakhirinya kadang kurang pas. Misal menyapu dengan 'ngumpetin' kotorannya ke sela-sela yang tak terlihat, atau menyapu tapi kotorannya tidak dibuang ditempat yang seharusnya (dikumpulin doang tapi ga dibuang ditempat sampah), atau yang paling parah kalo dikosan anda menyapu lalu kotorannya dibawa ke kamar sebelah. -__- Parah. Nah, fase ini merupakan fase dimana seseorang mulai menyadari betapa pentingnya sebuah proses dan totalitas namun kadang masih sulit untuk mengakhirinya dengan baik (mungkin karena kurang pengalaman).

#4 Menyapu lantai dengan bersih lalu dilanjut dengan mengepel lantai
Pernah? Saya belum sehebat ini. Hahaha.... Ini adalah fase tertinggi dari menyapu. Melakukan segalanya penuh kesadaran dan totalitas. Mulai bisa menata emosi, mengatur waktu, dan melakukan sesuatu yang terbaik sebisa mungkin.

Lalu lalu lalu? Apa hubungannya dengan jodoh?

Oke, sekarang kita cermati Al-Quran surat An-Nuur ayat 26 yang artinya kurang lebih :

"Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu Surga)" ~ QS. An Nuur : 26
Dari ayat diatas dikaitkan dengan filosofi menyapu tersebut maka kita dapat mengambil hikmahnya. 

Menyapu bukan sekedar menyapu, menyapu dapat mencerminkan karakter kita. Jika karakter kita baik, maka diharapkan mendapatkan jodoh yang baik pula. Dan sebaliknya, jika kita ternyata memiliki karakter yang kurang baik, maka dikhawatirkan akan mendapat jodoh yang kurang baik pula. 

Jika ingin memiliki pasangan penuh pencitraan, maka cukup lakukan kebiasaan menyapu nomor #1. Jika ingin memiliki pasangan yang pandai menata emosi, mengatur waktu, dan melakukan yang terbaik, maka lakukan kebiasaan menyapu nomor #4. Kurang lebih seperti itu...

Orang jaman dahulu kalo memberi sebuah filosofi kadang ada benarnya juga. Tapi bukan berarti kita hidup untuk menyapu terus supaya dapet jodoh yang baik ya. Hahahaha... Diiringi dengan ketakwaan, keilmuwan, kemapanan, kedewasaan, kebijaksanaan, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Begitu.
^_^ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar